Sunday, August 8, 2021

TS780 perbaikan encoder unit (bag1)


Teori operasi


TS780. Awalnya display frekuensi dapat digeser via dial besar di depan pada saat kondisi baru hidup atau masih dingin rig nya. Lama lama malah menjadi tidak bisa bergeser, artinya display tidak dapat berubah angkanya jika dial diputar. Namun jika menggunakan desk mic MC-80 yang ada tombol up - down, ternyata frekuensi dapat bergeser dengan baik. Problem dimana ya kok dial tidak bisa berfungsi?


Lihat skemanya bagian display dan yang bagian mengontrol nya, seperti dibawah ini.


Jadi ada 4 bagian yang terkait: mic input (1), control unit (2), display unit (3), dan encoder unit (4). 


Display bagus, artinya control unit juga bagus, juga karena dari mic display freq masih dapat naik turun. Kesimpulannya maka encoder unit nya yang tidak bekerja, tidak mau menggeser frekuensi jika encoder diputar.



Kita lihat skema encoder unitnya. 



Supply 5V berasal dari control unit, dan seharusnya normal karena berasal dari control unit yang bekerja normal. Untuk encoder ini biasanya pada rig yng cukup ja-doel, menggunakan LED transmitter dan ditangkap oleh fototransistor sebagai receiver. Ternyata terdapat 3 LED, yaitu D1 D2 D3 jenis SEL101R. Sedangkan untuk fototransistornya ada 2 jenis, yakni Q1 PH101 dan Q2 Q3 jenisnya PH102.


Jika melihat skemanya, maka Q1 digunakan untuk mengatur supply ke IC2 dan kemudian menuju ke IC10 di control unit. Penjelasan di user manual menyebutkan bahwa IC10 adalah gate yang akan on pada saat dioperasikan FM CH. Jadi untuk dial biasa, semestinya diatur oleh Q2 dan Q3. Apa yang menjadi perbedaan antara Q1 dan Q2? 


Q1 fototransistor PH101: spectral response optimal pada panjang gelombang 800-950nm, artinya berada pada gelombang infra red. Memang bisa bekerja pada gelombang sinar merah biasa (visible red) atau pakai LED merah namun responsenya menjadi 50%. Maka jika mengganti LED nya mestinya diganti dengan LED infra red. Dan untuk arusnya, pada skala iluminans 100, arus yang keluar sebesar 10mA. Transistor ini merk NEC masih ada yang menjual secara online, dengan harga hanya Rp 3.000,00.


Q2 Q3 fototransistor PH102: spectral response optimal pada panjang gelombang 650-850nm, artinya berada pada gelombang visible red-infra red. Maka paling pas jika mengganti LED nya diganti dengan LED red atau merah biasa yang panjang gelombangnya 700nm. Untuk arusnya, pada skala iluminans 100, arus yang keluar sebesar 0.2mA, jadi lebih kecil daripada Q1. Untuk transistor tipe ini agak susah mencarinya, namun ada persamaannya yakni 3DU33 dengan arus yang lebih besar (max 2mA) namun memiliki spectral response 800-950nm (infra red). Untuk arus yang lebih pas sebenarnya ada tipe 3DU13, yaitu dengan arus output sebesar max 0.5-1mA.


Itu menurut skemanya. Mari kita bongkar barangnya.







Wednesday, July 28, 2021

TRIO KENWOOD TS-520S DIGITAL DISPLAY (bag. 2)


Sembari menunggu 74HC4046 versi DIP, juga menunggu beli dari aliexpress, akhirnya nyolder juga yang tipe smd. Semua alat penyambung mata dipakai (kacamata +2.5, kaca pembesar dengan lampu) untuk dapat menyolder 14 pin smd. Padahal setelah membuat unit display berikutnya, baru sadar bahwa sebetulnya tidak semua pin perlu disolder...alamak!

Singkat cerita 74HC4046 terpasang, dan tadaaa.....it's working!! DG-5 emulator nya okeh masbro. Tinggal fine tuning untuk koreksi frekuensi. Modif di perintah arduino nya untuk koreksi frekuensi, secara semua band atau individual band, saya ta 

mbahkan di code arduinonya. Sedikit mudah, tinggal tambahin yang sudah dibuat oleh KV6O, upload lagi ke board arduino nya.



Berikutnya tentu nyari box. Browsing dan nemu box warna abu-abu beli dari Surabaya. Sebetulnya sedikit terlalu besar, namun gak nemu yang pas ukurannya. Ya bolehlah pakai box ini, agak bagus daripada box warna hitam yang lebih murah yang banyak dijual online.
Ini setelah rangkaian emulator dimasukkan ke dalam boxnya.


Tinggal colokin 3 kabel RCA ke panel belakang TS520S. Kalau TS520 gundul, TS520D atau TS520V tidak punya colokan RCA (VFO, Carrier, dan Heterodyne) di panel belakang. Mesti ditambahin sendiri. Ada artikel tersendiri untuk ini.

Testing.....testing....

  







Friday, July 2, 2021

 TRIO KENWOOD TS-520S DIGITAL DISPLAY (bag.1)

Inspirasi dari Stephen Leander KV6O (kv6o.com/wordpress) dan Todd Harrison KF7NBI  (toddfun.com), untuk membuat DG-5 emulator rig TS-520 (varian TS-520S dan 520V, untuk model 520D dan 520X harus ada tambahan penguat sinyal heterodyne).

Emulator DG-5 ini menggunakan board Arduino. Teorinya dipaparkan Todd di web nya. Saya yang awam Arduino jd paham...sembari harus belajar apa itu Arduino. Masuklah saya ke situs arduino.cc untuk belajar Arduino....eng ing eng...semua softwarenya di download masuk ke Mac-ku.

Download semua code, skema, dan pesen ke tukang PCB di Bogor. Tukang PCB di Bandung gak respon, yo wis yang di Bogor aja. Mantab tenan hasilnya....josss mirip banget pabrikan....Eh tukang PCB nya minta file gerber...waduh....terpakso baca dulu apa itu gerber....wuih. Terpakso lagi belajar Eagle, terus ekspor ke cam nya supaya jadi file gerber. Ternyata file gerber digunakan untuk print PCB. Bisa file gerber dibuka pakai teks editor, isinya kode koordinat lubang-lubang dan semua yang perlu nanti dicetak di PCB. Ada juga dampak positifnya: aku paham dikit bahasa C programming, paham dikit Arduino, paham dikit Eagle...hihihi...dikit lah, bisa juga bikin project lainnya. Dalam tempo sebulan, coy, karena lock down hahaha.

Terus beli semua komponen on-line, dari Bandung, Surabaya, Jakarta. Lagi gak mau keluar rumah, covid lagi menggilaaa....varian delta. Satu-satu setelah komponen datang, dirakitlah itu komponen. Ada yang salah beli, tapi ternyata blessing in disguise...baca terus apa itu.




Baik juga tukang PCB nya, dikirim bonus masker 3 lembar...mayan lah. Surprise juga nih, sama kayak PCB pabrikan, rapi juga kayaknya sih presisi itu lubang untuk komponennya. Jadi mikir...dengan tingkat skill nyolder saya yang setingkat dewa mabuk, gak ikutan kursus elektronik, apa bisa yah nyoldernya? Yo wis...kepalang maju...yo maju terus !!

Datanglah komponen, dan mulai dirakit. Ada 1 jenis IC PLL yang mesti beli di Surabaya, karena saya salah beli yang tipe SOIC16 (smd). Harusnya tipe yang DIP, tinggal tancep ke soketnya. Ini adanya di Surabaya, eh maksudnya beli dari penjual di Surabaya. Kali aja ada yg jual di tempat lain tapi gak via toped atau BL. Sembari menunggu komponen dari Surabaya, mulailah dipasang komponen yang sudah dibeli di Jaya Plaza.





Tiga macam IC nya ada di pasar lokal, ya memang sudah saya cek dulu sebelum start mulai bikin display ini. Selesai semua komponen disolder, menurut Todd mesti dites dulu apa ada yang short atau tidak. Nah loh...ini dia solderannya bener apa gak nih. Agak ngeri juga kalau ada yang korslet..berasaplah dia.


Tancepin DC jack 9V dari batere kotak, nyala tuh LED nya. Ahh..lega. Cek voltasenya di pin 5V...keluarnya 4,986V. Okelah..masih dalam batas toleransi.

Masih nunggu IC PLL nya. Harganya gak mahal. IC PLL 74HC4046, IC binary ripple counter 74HC53, dan IC multiplexer 74HC153. Awalnya salah beli, IC PLL dibeli yang tipe CD4046. Menurut datasheetnya sih sebetulnya bisa jalan juga...tapi nyatanya pas dipasang gak jalan tuh. 



Jadi nunggu datangnya 74HC4046. Dibeli dari Bandung, salah beli karena tipe yang SOIC16 alias smd. Wah...kan PCB nya pake soket. Jadinya browsing lagi nyari 4046. Nemu di Surabaya, dan langsung pesan. Hmm...nunggu 2-3 hari lagi nih. Sembari nunggu, apa boleh buat cari adapter untuk SOIC16 ke DIP16.


bersambung....





Wednesday, June 16, 2021


Biografi di QRZ.com

I became a member of ORARI (Indonesia Amateur Radio League) when I was studying at Geological Engineering in ITB Bandung, around 1981. My curiosity and wanting to know more about electronics made me want to join ORARI.


Finished college in 1986 and started work, still on-air at 2m, 80m with initial callsign YD1FFO. Then take the advanced class exam and move up to YC1FFO. Using Yaesu FT-101, Kenwood TS-430S, then also tried Yaesu FT-747GX. However, office work began to take over so that after 5 years of working in the field mostly out of Java Island, the ORARI license became dormant.


On the eve of retiring in early 2020, started to renew the defunct ORARI license. However, the YC1FFO callsign could not be recovered, so I got a new callsign, namely YC1FYH. 

A year before retiring, I started browsing to find a suitable rig, suitable in price and suitable for self-repair. Somehow I couldn’t find my old rigs, maybe someone sold those while I was go working outside of Java….hiks. Have to buy one…

The choice fell to the Kenwood hybrid, especially after reading the websites of Kenwood hybrid elmers and masters, including Ken K4EAA, Mike W5RKL, Terry K9TW, Walter KD7DNY, Ron WB4HFN any more masters not to mention. 


From reading and studying the discussions on QRZ.com and at the Kenwood hybrid group, I have managed to repair and tune up 7 Kenwood hybrid rigs purchased at bargain prices, from US$50 to US$150 the most expensive. Those are four TS520 (2 D models, 1 S model, and 1 V model) and three TS820 (S, V, and X models). All with 2 final tubes. Thanks to the Kenwood hybrid group, especially Mike W5RKL.


One of the most severe and most time consuming (nearly 6 months) to repair is the TS-520S. Can't transmit, receive low sensitivity…complete as a statue of boat anchor. Repair took a long time, partly because I was reading all the articles and discussions related to the Kenwood hybrid. Including find out the replacement parts that not ready available locally here. And also because …I’m not an electrical engineer hahaha…..!


Finally….job done, all rigs are in good condition and functional, including replacing the final tubes with NOS GE 6883B because the NOS 6146B or S2001A tubes are expensive. I like this TS-520S more than TS-820S. I. just don’t know NB is working or not, as too complicated for me to tune according to service manual. 


I'm currently making a database of ORARI's member here who are using the Kenwood hybrid rigs. Only a few people I know so far, perhaps I should go on-air more. After retirement, sure there is enough time for QSO and hobbies, rigs, antennas and other things related to ORARI.


73

Adhi Wibowo YC1FYH

youtube mBoy AW

yc1fyh.blogspot.com 








     




Monday, June 14, 2021


NETRALISASI TABUNG FINAL


Pengertian netralisasi tabung final


Jika anda mempunyai rig dengan final tabung, seperti yang saya pakai yaitu Trio TS520S, maka salah satu hal yang perlu diketahui adalah netralisasi tabung final tersebut. Apa sih perlunya netralisasi tabung final?


Seperti kita ketahui, dalam tabung tersebut ada yang namanya plate dan control grid (saya sengaja tidak mengubah namanya tetap dalam bhs Inggris, supaya tidak membingungkan). Nah antara plate dan grid ini akan timbul suatu kapasitansi, yang dapat memberikan efek merusak linearity dan kestabilan kerja tabung tersebut (hehe…ini bukan kata saya, lha saya juga gak ngerti, ini sih kata K9AXN).


Efek pertama adalah dapat memberikan feedback negatif ke frekuensi operasi, sehingga mengakibatkan efek degenerative pada drive ke grid. Tanpa netralisasi, drive harus ditambah untuk mencapai output full. Walau demikian, feedback tidak berpengaruh pada efisiensi, hanya drive yang mesti ditambah.


Efek kedua adalah membuat feedback positif kepada rangkaian parasitic Hartley, yang terbentuk di bawah frekuensi operasi. Hal ini memang terjadi secara natural di rangkaian tuned grid/tuned plate pada semua amplifier yang menggunakan tabung. Efeknya tentu berbahaya, sehingga perlu dinetralkan.


Menurut W8JI, netralisasi diperlukan karena tabung memiliki unwanted kapasitansi internal. Kapasitansi antara elemen input dan elemen output di dalam tabung vakum mengakibatkan rangkaian output akan membalik ke arah input. Jika hal ini cukup kuat, regenerative feedback ini membuat berkurangnya efisiensi.


Tujuan netralisasi ini atau juga proses balancing adalah untuk menimbulkan feedback kedua sedemikian rupa sehingga feedback kedua ini sama besarnya dengan regenerative feedback, namun polaritasnya atau fasanya berlawanan sehingga akan saling meniadakan. Salah satu cara yang populer adalah menggunakan variable kapasitor untuk mencari titik balancing tersebut. Tanpa netralisasi, tabung harus dikurangi powernya untuk mencegah terjadinya osilasi. Dengan kata lain, rangkaian yang sudah dinetralisasi dapat mencapai gain lebih tinggi dan meningkatkan sensitivitas receiver.



Bagaimana melakukan netralisasi  


Dalam manual servis Trio TS520S, tata cara melakukan netralisasi dijelaskan dengan baik. Tapi dibutuhkan alat, yaitu RF milivoltmeter beserta RF probe nya. Jika tidak ada milivoltmeter, dapat menggunakan digital voltmeter dan pastikan bahwa internal impedance dari voltmeter sebesar 10 M-Ohm. Kemudian juga harus ada RF probenya.


Berikut adalah peralatan yang saya gunakan. Milivoltmeter yang saya gunakan adalah milivoltmeter merk Kikusui model 114 dengan probe 973R seperti pada foto. Powernya menggunakan listrik, masih 100V karena ini alat yang saya beli dari Jepang. Tidak saya ubah, biar aja 100V, saya pakai trafo putar step down. Skala ketelitian milivoltmeter ini sampai dengan mV, dari 1,5 mV sampai dengan 500 V, menggunakan rotary switch 10 posisi.  


    


Tapi probe ori nya hanya bisa untuk mengucur voltase dan arus saja, tidak bisa untuk mengukur RF. Oleh karena itu mesti ditambah lagi RF probe. Browsing nemu RF probe homebrew oleh N5FC, yanag juga dipakai di RF voltmeter Heathkit. Berikut adalah gambar skema rangkaiannya, dan saya akan mengikuti skema tersebut.



           

  

                                                                Gambar RF probe dari N5FC dan rangkaiannya.




Housing probe saya buat dari spidol whiteboard, kemudian dilapis tembaga untuk shield. Ujung probe menggunakan probe multimeter yang biasa, kebetulan ada bekas probe multimeter analog yang tidak terpakai. Foto berikut adalah RF probe buatan saya tersebut, ujungnya saya tempel dengan lem plastik glue gun. Lumayan, ujung probe jadi kuat terikat ke spidol bekas…


Foto di bawah ini adalah RF probe homebrew bikinan saya, sesuai dengan rangkaian dari N5FC dan cara merakitnya sesuai dengan petunjuk, yaitu semua komponen harus dirangkai di dalam shield dari tembaga, dan dihubungkan dengan kabel coax ke voltmeter. Saya pakai coax RG58 supaya impedansi nya 50 ohm sama dengan impedansi antena. 




Foto RF probe homebrew menurut skema dari N5FC (property of YC1FYH)



Hasilnya gimana ya…hehe ya nanti sambil dites untuk netralisasi apa bisa atau tidak.


Pengetesan netralisasi


TIba saatnya melakukan netralisasi pada tabung final di rig TS520S saya, apalagi tabungnya saya ganti modifikasi dengan tabung 6883B. Tabung aslinya S2001A karena mati 1 buah, maka keduanya saya ganti dengan 6883B. Tetapi harus dilakukan modifikasi pada final boardnya, karena tabung 6883B ini heaternya minta tegangan 12V. Sedangkan S2001A tegangan heaternya adalah 6V. Cerita tentang modifikasi ke 6883B ini ada pada artikel yang lain.


Mengikuti buku manual servis TS520S, netralisasi dilakukan dengan cara memutar variable kapasitor yang berada di dalam kotak tabung final, atau istilahnya final cage. Tapi harus dilakukan dengan obeng non-konduktif atau obeng plastik supaya gak kesetrum hehehe…. Hati-hati, tegangan pada tabung final dapat mencapai 900V, cukup untuk membuat sampeyan silent key…!



Caranya yaitu:

  1. tune up rig pada frekuensi 21.3 MHz pada mode CW; jangan lupa switch SG nya harus on hehe…lebih baik pakai dummy load tidak pakai antena;
  2. setelah ok rig keluar output maksimumnya, standby (posisi pada REC) dan switch SG ke off;
  3. pasang dummy load [mestinya sdh dari tadi pada saat tune up di butir 1)];
  4. switch ke SEND, dan ukur tegangan pada dummy load dengan RF milivoltmeter, tentu menggunakan RF probe;
  5. dengan obeng non-konduktif, putar variabel kapasitor TC1 pada final cage sehingga bacaan tegangan di RF milivoltmeter menjadi paling minimum.


Ya setelah diperoleh nilai TC1 minimum, ya selesai hehe….gampang kan? Setelah itu cek output di tiap band, 80m sampai 10m. Mungkin di band 10m sedikit lebih kecil outputnya, suatu hal yang normal.


Bagaimana hasilnya RF probe homebrew? Oke banget masbro…..manstabbbb pisan. Videonya sedang saya buat supaya jelas bagaimana proses netralisasi.





Monday, April 26, 2021

Perbaikan TS-520V

Ini seri TS-520 yang aslinya hanya pakai 1 tabung final S2001A. Jadi yaa...kalau bagus mestinya power cuma 40-50W. Tapi yang saya terima ini sudah dimodified jadi 2 tabung final, dengan kipas tambahan yang tidak ori. Ya yang penting kipasnya berfungsi mendinginkan final cage nya. Cek panel depan, tombol-tombol normal walaupun keliatan kotor, puteran dial VFO...rada berat puteran dial VFO nya. Hmm....alamat mesti dibongkar nih unit VFO nya. Ya dibongkarlah....


Cek ricek...pasang SWR-dummy load...power on...heater on...tunggu 2 menit. Intip dulu lampunya nyala gak, juga pastiin tidak nyala teraanggg bright orange hehe. Cerita lampu final S2001A yang nyala terang ini nanti ada di bagian lain. 

Sekarang balik lagi cek TS-520V nya. Setelah tuning drive-plate-load, lho power cuma 50W kayak cuma 1 tabung final nih? Bahkan Ip plate current kok gak keluar ya. Kecil banget di power meter Kuranishi cuma 1 Watt? Waduuhhh....Cek di mode CW memang keluar powernya 50W. Mungkin Ip rendah ini yang bikin power juga rendah.

Cek receiver....konek antena...mulai kedengeran cuiiit...cuitttt....seeesss...zzoooozzzz.... Mulai kedengaran para anggota ORARI sedang ber-QSO ria di band 40m 7.060 MHz. Di 7.0 MHz lagi rame jualan kacang. Untuk receive-nya dibandingkan dengan TS-820S yang baru selesai saya perbaiki, ternyata S-meternya agak pelit. Tapi ya gakpapa, yang penting gak budeg...nanti tinggal di alignment lagi receivernya. Ada lagi soalnya TS-520S yang super budeg nih, giliran dioprek berikutnya.


HV caps

Ini yang pertama mesti dicek, karena kapasitor untuk tegangan tinggi 800V-900V. Kalau sudah jelek atau bocor, power gak bisa manteng di 800V, akan turun begitu PTT dipencet. 


Ini elco juga jarang, spec nya 100uF 500V. Yang banyak itu 450V, gak berani pasang karena takut mbledugg! Akhirnya juga beli di luar, beli agak banyak sekalian untuk spare. Saya juga pasang nilai yang sama, ini bisa juga diganti dengan 120uF atau 150uF, yang penting 500V. Elco jaman sekarang cuma setengah elco jadul yang merk Elna itu. Karena pesenan Nichicon lama gak datang juga, akhirnya terpaksa browsing lokalan. Eh ada juga bikinan Korea 150uF 500V. Ya semoga bener tahan tegangan tinggi 800V.

Karena diameter lebih kecil, maka dudukan nya mesti bikin sendiri, dari plat seng. Jadi kelihatan lebih kosong tempatnya. 



SG screen caps

Kapasitor screen gate ini via pin 210 ngasih tegangan ke driver 12BY7A. Apa ke final juga? kalau lihat diagramnya sih gak tuh. SG tabung final disuplai dari tegangan 800V via HV board. Yo wis..pokoke ganti wae apalagi sudah keliatan retak. 

Secara fisik aja kelihatan jelas mulai retak. Hmmm.. mesti diganti nih. Ini barang langka kalau nyari yang persis, soalnya itu dua elco yang disatuin. Jadi kutub plus nya ada dua, minus nya satu. Layaknya dua elco, minusnya disatukan. Yo wis...ngikutin juga situs para suhu Kenwood hybrid, maka 2 elco disatukan aja.






Cari elco via online, belum tahu yang bagus itu yang seperti apa. Takutnya merk cuma disablon, meledak lah elco nya karena gak tahan tegangan tinggi. Kapok sih...ada elco bunyi kayak petasan, juga ada resistor meledak juga mirip bunyi mercon lombok, mainan dulu pas SD. Sekarang apa masih ada mercon lombok?

Ukuran elco yang baru ternyata diameter kurang lebih setengah dari elco lama. Maka dudukannya bisa dipakai. Supaya gak goyang, dikasih lem plastik. Pasang.....okeh masbro.


Final unit board

Ini boardnya gak ori lagi khususnya di part parasitic suppressor. Penampakan suppressornya seperti di bawah, keburu dicabut belum sempat difoto di board nya. Ini ya gak ada yang jual barang barunya. Mesti beli copotan, atau....bikin sendiri !!


Cari dulu nih referensi tentang parasitic suppressor. Ada artikel tulisan dari W8JI, PA0FRI. Utamanya tentang modifikasi linier gede. Berbekal bacaan itu, maka mulai berburu resistor antara 33ohm-100ohm, dengan rated minimal 2W. Nemu di toko online resistor karbon warna pink, nilai 33ohm 3W. Ya udah sekalian beli beberapa untuk cadangan. Juga lilitannya antara 3-4 lilit, nilainya sekitar 7-8uH menurut situs tersebut walaupun itu referensi untuk linier yang powernya kilowatt. 

Saya punya LC meter, namun kayaknya untuk nilai kecil segitu tidak terlalu akurat hasilnya. Jadi akhirnya bikin aja 4 lilit pakai kawat email diameter 18mm, diameternya saya buat lebih besar sedikit dari diameter resistor. Barang orinya juga 4 lilitan melilit di resistor 47ohm 1 W jika lihat ukurannya. Cari ballpoint kecil yang seukuran diameter resistor, dan langsung bikin lilitan. Mengikuti referensi W8JI atau PA0FRI, maka resistor dan lilitan dipasang berdampingan, tidak seperti aslinya yaitu resistor di dalam lilitan. Dalam artikel diterangkan bahwa jika resistor di dalam lilitan, maka rentan terhadap suhu sehingga ada potensi cepat rusak. Ya mungkin itu sangat betul untuk tabung gede seperti yang dipakai di linier Yaesu FL-2100B, Kenwood TL-922, atau Heathkit SB-1000 yang ukurannya kilowatt. Tapi ya gpp lah, saya pasang aja lilitan dan resistor berdampingan seperti pada foto berikut.




Awalnya setelah parasitic suppressor dipasang, malah power tidak mau keluar. Waduhhhh....
Periksa punya periksa, dari tegangan driver ke final ada kok, tapi kenapa final gak ada powernya? Akhirnya disimpulkan koneksi solderannya yang bermasalah. Dikenal sebagai cold soldering, solderan lama sudah jadi batu maka gak konek lagi titik solderannya. Tadinya saya tambahin saja timah. Ehh..tetap saja power gak mau keluar, masih ada koneksi yang gak nyambung. Akhirnya hampir semua timah saya buang (desoldering). Saya solder ulang semua titik, termasuk soket untuk tabung final. Belepotan nih boardnya, pernis pelindungnya jadi meleleh. Juga kabel jumper yang awalnya kecil, saya ganti yang lebih besar yang warna merah. Selesai nyolder....dag dig dug....keluar gak yah powernya? Nyalain heater.....waahhh....plate current Ip tetap keciiiillll bangeett. Powernya sih keluar 90-100Watt.  Lantas kenapa yah Ip tetap kecil? Pas tuning jadi gak bisa keliatan berapa Ip nya, bahaya juga kalau nanti kalau terlalu gede, bright pink lah jadinya itu lampu final...tinggal tunggu jebolnya lampu tabung !! 

HV board unit

Ok. Mulai cari kenapa Ip rendah. Dari trafo, ok gak ada masalah masih keluar semua output untuk HV unit. Masih ok 800V, 300V, 210V, 100V. Dari beberapa situs Kenwood hybrid, disebut jarang bermasalah trafonya. Cek arus dari trafo coba. Arus dari trafo masuk ke Rectifier unit, juga katanya jarang bermasalah. Saya cek juga outputnya dari Rectifier unit, masih sama seperti dalam skema. Cek beberapa resistor besar, nampaknya tidak ada masalah. 

Masuk ke HV unit. Kabarnya paling sering bermasalah adalah R5, R6, R7 yakni resistor yang mengatur tegangan ke plate pada saat tuning. R5 dan R6 membagi dua tegangan pada saat tuning sehingga menjadi sekitar setengah dari full power. Ini untuk mencegah lampu tabung kelebihan tegangan dan jadi jebol. Nilai R5 R6 adalah 56 Kohm, untuk R7 12 Kohm. Ternyata nilainya sudah berubah !! R5 menjadi puluhan mega-ohm, atau dikenal sebagai resistor open ! R6 juga menjadi 66 KOhm, dan R7 nilainya 14 KOhm, lebih 2ohm dari spec ori nya. Dalam daftar komponen, semuanya rated 1/2W. Saya ganti semuanya menjadi yang rated 1W supaya lebih tahan tegangan saat dilakukan tuning. Kan tiap kali pindah frekuensi pasti tuning, jadi kasian ini resistor kalau tidak tahan banting. Belum lagi kalau antena juga mesti dituning via ant tuner. Cabut R5, R6, R7, dan pasang resistor yang baru. Gak nemu yang tipe karbon, dipasang aja yang tipe metal. Cek resistor lainnya masih oke, masih dalam toleransi.



Ganti R5, R6, R7 di HV board unit


Final cage

Jika semua sudah dirasa sesuai spec nya, tapi power belum maksimal, maka perlu dioprek bagian final. Iki jare suhu Kenwood hybrid hehe....karek melok wae. 

Disebut sebagai final cage repair, soalnya memang tabung finalnya kan dikandangin hehe...kandang final. Mengikuti saran K4EAA, akhirnya final cage dioprek juga. Khususnya C1 itu katanya mesti Class 1 rated, gak ngerti kamsudnya opo. Yang jelas kan harus tahan dilalui RF terus menerus, jadi dibilang sih harus lebih tinggi spec nya. Beberapa situs Kenwood hybrid lain juga bilang gitu. Nah terus komponen dari mana? Beli di lokal gak ada spec yang jelas nih, mari coba browsing. Muncul situs mouser.com.sg. Pesen lah di situs mouser.com.sg, kirain barang dikirim dari warehouse di Singapore, taunya dikirim dari Mansfield Texas US. 

Barang yang dipesan:
aslinya C1 1000pF 3KV  Class 1 dielectric cap -- diganti spec nya 1000pF 7KV;
aslinya C2 4700pF 1,4KV -- diganti dengan 4700pf 3 KV;
aslinya L1 choke coil 3uH 500mA -- diganti dengan 3uH 3000mA 70Mhz; ini katanya sih bisa juga diganti dengan 6.8uH. Tapi saya pilih nilai Henry nya sesuai ori aja.

Bagus juga yah keliatannya C1, keren warnanya orange. Induktor 3uH mirip resistor penampakannya, gak seperti induktor lilitannya kelihatan.




Done bagian transmitter. Tes di 80m, keluar 120Watt !!! Sementawis oke lah hehe..

Tinggal bagian receiver, nyetel S-meter supaya gak pelit. Sementara sudah bisa dipakai QSO...Nusantara net, Papua net, Sumatera net manggil-manggil.

Katanya sih perbaiki receiver lebih suliitttt.....bener gak?













TS780 perbaikan encoder unit (bag1) Teori operasi TS780. Awalnya display frekuensi dapat digeser via dial besar di depan pada saat kondisi...